Kamis, 29 Oktober 2009

PR Case ( Contoh Jogja )

Situational

Jogja digoyang gempa, Dunia dan Indonesia pun kembali berduka, daerah yang diangap tenang dan menjadi tujuan bagi orang sukses untuk menghabiskan hari tua diberi kejutan, setelah semua mata fokus memandang Jogja pada Gunung berapi yang bernama Merapi dengan berbagai fenomena serta prediksi akan meletus. Semua seakan telah dipersiapkan, pada saat banyak orang dari kalangan Media, Peneliti, Turis, bahkan Presiden datang untuk “menunggu” meletusnya gunung Merapi yang tak kunjung dahsyat, tapi pagi itu tanggal 27 Mei 2007 Tuhan memberikan kejutan “itu” tapi bukan Gunung Merapi bagian Utara bumi Jogja bagian Selatan juga ingin disapa dengan caranya sendiri, yaitu GEMPA.

Lokasi gempa menurut Badan Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia terjadi di koordinat 8,007° LS dan 110,286° BT pada kedalaman 17,1 km. Sedangkan menurut BMG, posisi episenter gempa terletak di koordinat 110,31° LS dan 8,26° BT pada kedalaman 33 km. USGS memberikan koordinat 7,977° LS dan 110,318 BT pada kedalaman 35 km. Hasil yang berbeda tersebut dikarenakan metode dan peralatan yang digunakan berbeda-beda. Secara umum posisi gempa berada sekitar 25 km selatan-barat daya Yogyakarta, 115 km selatan Semarang, 145 km selatan-tenggara Pekalongan dan 440 km timur-tenggara Jakarta. Walaupun hiposenter gempa berada di laut, tetapi tidak mengakibatkan tsunami. Gempa juga dapat dirasakan di Solo, Semarang, Purworejo, Kebumen dan Banyumas. Getaran juga sempat dirasakan sejumlah kota di provinsi Jawa Timur seperti Ngawi, Madiun, Kediri, Trenggalek, Magetan, Pacitan, Blitar dan Surabaya, korban tewas menurut laporan terakhir dari Departemen Sosial Republik Indonesia pada 1 Juni 2006 pukul 07:00 WIB, berjumlah 6.234 orang[2] dengan rincian: Yogyakarta 165 jiwa, Kulon Progo 26 jiwa, Gunung Kidul 69 jiwa, Sleman 326 jiwa, Klaten 1.668 jiwa, Magelang 3 jiwa, Boyolali 3 jiwa, Purworejo 5 jiwa, Sukoharjo 1 jiwa dan korban terbanyak di Bantul 3.968 jiwa. Sementara korban luka berat sebanyak 33.231 jiwa dan 12.917 lainnya menderita luka ringan. Kabupaten Bantul merupakan daerah yang paling parah terkena bencana. Informasi menyebutkan sebanyak 7.057 rumah di daerah ini rubuh.

Kondisi diatas membuat banyak kalangan hampir di semua lapisan bumi ingin ikut berpartisipasi, ada yang benar – benar peduli serta melakukan sesuatu, ada pula yang hanya sekedar simpati, semua sangat disyukuri para penduduk Yogyakarta yang terkenal dengan kesopanan dan keluguannya seperti watak suku jawa pada umumnya, meskipun mereka tetap menangung kerugian dari yang bisa dinilai atau diukur sampai kerugian yang sangat tak ternilai.

Keterlibatan kita sangatlah dibutuhkan untuk tetap menjaga Jogja, karena Jogja adalah tujuan wisata kedua terbesar di Indonesia, Potensinya terlalu besar untuk dilupakan begitu saja hanya karena Gempa, dengan harapan sayap Jogja bisa kembali membawa masyarakatnya yang lugu terbang tinggi hinga mencapai kemakmuran seperti sebelum gempa atau bahkan bisa menyembuhkan trauma yang dialami ketika Jogja tak berdaya mengepakkan sayap.

Objective

Menyembuhkan Jogja dari segi Mental dan Trauma berkepanjangan akibat gempa serta kembali membangun saran dan prasarana guna percepatan pemulihan Jogja sebagai tujuan wisata bertaraf international yang berbasis kebudayaan lokal yang pada akhirnya akan mengembalikan aktivitas ekonomi.

Strategi

Menciptakan semangat untuk saling membantu dan Gotong Royong dengan menciptakan semboyan untuk Jogja yaitu Your Not Alone.

Menyelengarakan kegiatan dengan mengedepankan kekayaan kebudayaan Jogja yang sangat unik serta menonjolkan peningalan sejarah yang sangat mudah ditemui di Jogja, konsep even adalah budaya lokal yang dikemas modern, misalnya produk kerajinan dengn kemasan sesuai jaman.

Semangat yang dimunculkan yaitu semangat Gotong Royong ( Untuk memulihkan budaya bangsa )

Supaya terbangun semangat Gotong Royong dengan skala International akan diadakan iven seperti pameran Fotografi tentang jogja serta kejuaraan konsep Jogja yang berbudaya serta Modern.

Untuk mendorong semangat kebersamaan dalam gotong royong akan diadakan konser yang bertaraf international dengan penyanyi dari luar dan dalam negeri yang mana semua hasil penjualan tiket akan disumbangkan untuk pembangunan Jogja, Pelaksanaan konser akan diadakan pada akhir tahun di sepanjang jalan Malioboro, konser musik bertajuk “ Your Not Alone” akan dibuka oleh Presiden RI, serta dihadiri oleh perwakilan negara sahabat.

Aktivitas Jogja,Your Not Alone

Dari strategi yang disiapkan di atas, maka diadakan beberapa acara sebagai berikut :

  • Rafting International Tournament in Progo River: December 16-30, 2006
  • Climbing International Tournament in Guning Kidul: December 20-22, 2006
  • Jogja Fotografi Festivel : December 20,2006 – January 15,2007
  • Crosscountry Race in Natty Mountainside December 25,2006
  • Music Festivel “ Jogja, Your Not Alone “ in Malioboro December 31, 2002.

Semangat Program

Gotong Royong dan semangat memiliki dalam membangun jogja secara khusus dan Indonesia secara umum, seluruh program ini didanai oleh banyak pihak, baik pemerintah, pegusaha, relawan, profesional yang dengan tulus dan berniat baik untuk membangun Jogja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar